| Jangan Takut Melihat ke Belakang |
|
|
|
| Written by Bahrul Alam |
| Thursday, 20 August 2009 23:45 |
Saya sering mendapatkan materi ceramah dari berbagai motivator agar lihatlah ke depan. Lupakan masa lalu. Kalaupun mau melihatnya, seperti Anda melihat dari kaca spion.
Sebentar saja,. kemudian kembali menghadapkan wajah ke depan. Tamsil itu, secara tidak sengaja, menempatkan seseorang yang sedang menyetir mobil. Hidup tidak sesederhana itu. Bisa jadi, kita sedang menakodai sebuah kapal pesiar, atau pesawat komersil yang sudah dilengkapi dengan instrumen canggih. Jadi, tidak masalah mau liat ke kanan, kiri, dan atau ke belakang. Justru, pemisalan sang guru, atau motivator spt itu akan sangat menyesatkan kita. Dalam istilah metode ilmu penelitian masyarakat disebut dengan Oversimplikasi. Bangsa besar selalu mengingat dan memahami sejarahnya Hampir sebagian besar negara maju di dunia adalah negara-negara yang memiliki catatan sejarah yang lengkap dan baik. Dengan cara itulah mereka bisa mengukur dan mengvaluasi perkembangan kemanjuan bangsanya. Sebaliknya, di Indonesia, entah disengaja, atau tidak, masyarakat, khususnya di kalangan profesional sengaja ditanamkan pemikiran, agar tidak lagi melihat ke belakang. Cepat, atau lambat, diktum sperti ini akan mengebiri pemikiran orang tentang masa lalunya. Padahal, relasi dulu, kini dan akan datang sangat penting. Dari situlah kita bisa melakukan evaluasi, dan progresi ke arah yang lebih baik . William Shakespeare mengatakan , 'There is nothing new in the world'. Orang Jepang, bahkan memiliki moto: Agar tidak lelah dan bosan bekerja, lihatlah ke belakang. Seperti seorang pengarit rumput. Dia tidak pernah melihat bentang semak belukar yang akan dibabat. Tetapi, menoleh ke belakang, melihat sudah berapa luas areal yang dibabat. Setapak demi setapak, akhirnya semua lahan bisa ditanami. Bom, gempa , Tsunami, dan peristiwa Ambalat, kekeringan, banjir, dan kelaparan, adalah sesuatu yang pernah terjadi. Tapi , kita tak pernah mau melihat ulang ke belakang. Apalagi memahaminya, dan menjadikannya pelajaran untuk menyiapkan langkah kita ke depan. Akhirnya, tak jarang kita menjadi sebuah bangsa yang lupa diri, atau cepat lupa, atau pura-pura lupa. Ibarat keledai. Kita jatuh berulang kali di tempat yang sama. Salam Indonesia Powered by jWarlock jwFacebook Comments |



Saya sering mendapatkan materi ceramah dari berbagai motivator agar lihatlah ke depan. Lupakan masa lalu. Kalaupun mau melihatnya, seperti Anda melihat dari kaca spion.
Sebentar saja,. kemudian kembali menghadapkan wajah ke depan. Tamsil itu, secara tidak sengaja, menempatkan seseorang yang sedang menyetir mobil. Hidup tidak sesederhana itu. Bisa jadi, kita sedang menakodai sebuah kapal pesiar, atau pesawat komersil yang sudah dilengkapi dengan instrumen canggih. Jadi, tidak masalah mau liat ke kanan, kiri, dan atau ke belakang. Justru, pemisalan sang guru, atau motivator spt itu akan sangat menyesatkan kita. Dalam istilah metode ilmu penelitian masyarakat disebut dengan Oversimplikasi. 






Comments