| Beda Carita dengan Bali , Lombok atau Yogyakarta |
|
|
|
| Written by bahrulalam |
| Friday, 24 July 2009 03:50 |
|
Usai mengambil gambar, akupun memesan air kelapa muda. Harganya 5 ribu rupiah sebutir. Rasa airnya manis. Sambil duduk di saung yang menghadap ke pantai,..akupun menatap panorama indah pantai Selat Sunda di ujung Barat pulau Jawa ini. Tak terasa, waktu sudah semakin sore. Setelah membayar kelapa muda, akupun beranjak menuju mobil. Baru saja menyalakan kendaraan, tiba2 saja seorang bocah mendatangilku. "Parkirnya pak'. "Berapa', kataku. "Bocah itu memperlihatkan kerta seperti flier, berisi daftar harga /tarif kendaraan dan orang yang akan berwisata ke pantai. Mobil Rp,. 10,000'. Kontan aku terperangah. Soalnya, ketika masuk ke pelataran rumput di pinggir jalan, tidak ada pemberitahuan atau pungutan apapun. Aku juga hanya ingin memotret, dan minum air kelapa. Singkat cerita, si bocah menunjuk, kalau itu perintah sang bos. Dengan rasa penasaran, aku datangi sang bos, dan kami terlibat percakapan. "Mas, kog sudah mau pergi baru disodori ini. kataku sedikit emosional. Inikan namanya memeras. Si bos, dengan tenang berkata: "Bapak bisanya bayar berapa". "Aah, "sergahku lagi. "Bukan soal harganya. Tp mengapa ngk sejak awal dikasi tau..masuk bayar, seperti tempat rekreasi lain. Si bos kehabisan akal. Masih tetap minta, bayar semampunya. akhirnya kuberikan 5 ribu rupiah. Dan dia tetap bersikeras, wilayah itu di bawah pengelolaannya.. Padahal aku lihat sendiri, kalau dia juga berjualan kelapa muda,. Bedanya, kelapa muda kubeli dr kios di sebelahnya, terpaut satu pagar bambu. Karena masih kesal, kukatakan kepadanya, kalau maksudku datang, justru ingin menulis cerita tentang kalian.. Eeh, taunya, yang muncul cuma pengalaman pahit. Akhirnya, niatku untuk kembali ke tempat itu minggu depan pudar. Takut dijebak lagi. Berbeda dengan di Bali , Lombok dan Yogyakarta, Di tempat2 spt itu, belum pernah kualami pengalaman seperti di Carita. Bahkan, tak jarang, mereka justru lebih ramah menawarkan berbagai kebutuhan kepada pengunjung. Bukan, dengan cara-cara menjebak. Kapan ya..Carita, dan Banten mau mengungguli Bali, Lombok, dan Yogyakarta. Padahal, di sekitar lokasi, banyak berdiri mesjid. Yang paling ironis, ketika aku menyaksikan kondisi pantai tempat nelayan menambatkan perahunya, sangat kotor. Banyak sekali kotoran manusia berserakan di sana sini....Hal itu, tidak kutemukan di pantai Sengigi, Kuta, dan Parang Tritis..juga di tempat pelelangan ikannya . APa yang salah dengan kondisi di Banten >??? Sosialisasi >? Perlu keseriusan Pemda , kalau Banten menjadikan pantai Carita sebagai andalan pariwisata di negeri serambi Mekah pulau Jawa ini.... |



Hujan baru saja reda. Suasana sepanjang jalan dari Anyer menuju Carita padat dilalui bis-bis wisata dan mobil pribadi.
Akupun sesekali mengomel, menyaksikan jalanan yang rusak parah . Sesampainya di salah sebuah pantai pendaratan ikan, di Carita, aku menghentikan mobil. Melihat dari atas jembatan , ke muara. Wooww. indah sekali pemandangannya. Sejumlah nelayan baru saja pulang dari melaut. Berbekal tustel digital saku merek Kodak, akupun mulai beraksi. Jepret sana, jepret sini. Hasilnya,.luar biasa. Banyak stockshots menarik. 






Comments