| Ketika Bumi Pertiwi Menangis |
|
|
|
| Written by Bahrul Alam |
| Friday, 26 June 2009 07:09 |
Bagian dari penggal bait puisi ini pernah kutulis dua belas tahun silam ketika Aceh masih mencekamSeorang anak kecil , dan masih menyusui harus tercerai dari ibu kandungnya Sedang sang ayah sudah lama tak pulang karena berjuang di hutan Sekarang, semuanya seperti muncul kembali Meski dalam wujud yang berbeda Pedang hukum, yang kuanggap bisa menebas hingga putus tiang kayu kedzoliman itu ternyata kini sudah tumpul dan berkarat Lengan kekar yang kuanggap bisa mencengkram leher pengkhianat bangsa itu kini terkulai loyo dimakan usia Tak ada lagi rumah tempat berteduh hati yang galau Tak ada lagi kawan tempat bercerita duka dan suka Semua saling memikirkan dirinya sendiri Entah apa gerangan yang sedang dicari... Hati telah lama mati... Jiwa telah lama merana Akal telah diperbudak kekuasaan dan harta Dan Bumi Pertiwipun Menangis.................. Ketika menyaksikan anak bangsa berjalan sendiri-sendiri tak tentu tujuan Menatap rembulan malam yang kian redup.........di langit Tuhan Sambil bertanya : Masihkah matahari terbit esok pagi.....? |



Bagian dari penggal bait puisi ini pernah kutulis dua belas tahun silam ketika Aceh masih mencekam






Comments