| Pabrik Oncom mang Aom |
|
|
|
| Written by Bahrul Alam |
| Tuesday, 16 June 2009 00:27 |
Rejeki terhampar di mana saja. Tergantung bagaimana kita menjemputnya. Begitu yang kuingat kata-kata penyemangat dari seorang teman.
Dan , aku meng'amini'nya. Barangkali, motto itulah yang diamalkan mang Aom, pemilik 'pabrik' oncom asal Kuningan-Jabar. ketika aku menyambangin tempat usahanya itu Minggu pagi. Bermodalkan tanah berukuran 40 meter persegi, dan sebuah tungku bermuatan 2 (dua) tong besar, Aom dan 5 anak buahnya bisa memproduksi oncom 700 anca (istilah mereka, yang artinya, secetakan ukuran 20 x 20 cm) oncom setiap hari. Mereka menjual oncom hasil produksi rumahan itu, Rp. 2000 se anca atau omsetnya 1,4 juta rupiah sehari. Luar biasa,..ucapku mengagumi usaha mang Aom Kalau aku hitung2, omset mang Aom sebulan Rp. 42,000,000,.00(Empat puluh dua juta rupiah)... atau sama dengan empat kali gaji pejabat setingkat GM/eselon 1 di BUMN. Sulitkah membuat oncom ? Menurut Adah, 60 tahun, yang sudah 5 tahun bekerja di pabrik milik Aom, proses pembuatan oncom dimulai dari mengolah ampas tahu . Ampas dimasak di dalam dua buah tong besar. Setelah satu jam dimasak, ampas dmasukkan ke dalam wadah, dan diisi ke dalam cetakan (anca). Ampas yang sudah dicetak ditaburi 'biang',semacam ragi, kemudian disusun di dalam para-para atau rak, yang bertingkat selama dua hari. Pada hari ketiga, oncm sudah siap dipasarkan. Kemana oncom dijual ? Menurut salah seorang pekerja pabrik, mereka mengambil bahan oncm dari pabrik tahu di Kebayoran lama. Hasil prduksi mereka juga dipasarkan ke pasar Kebayoran lama. Praktis, banget. Ngk perlu telikung sana telikung sini,, untuk dapat 42, juta sebulan... |



Rejeki terhampar di mana saja. Tergantung bagaimana kita menjemputnya. Begitu yang kuingat kata-kata penyemangat dari seorang teman.
Dan , aku meng'amini'nya. Barangkali, motto itulah yang diamalkan mang Aom, pemilik 'pabrik' oncom asal Kuningan-Jabar. ketika aku menyambangin tempat usahanya itu Minggu pagi. Bermodalkan tanah berukuran 40 meter persegi, dan sebuah tungku bermuatan 2 (dua) tong besar, Aom dan 5 anak buahnya bisa memproduksi oncom 700 anca (istilah mereka, yang artinya, secetakan ukuran 20 x 20 cm) oncom setiap hari. Mereka menjual oncom hasil produksi rumahan itu, Rp. 2000 se anca atau omsetnya 1,4 juta rupiah sehari. Luar biasa,..ucapku mengagumi usaha mang Aom Kalau aku hitung2, omset mang Aom sebulan Rp. 42,000,000,.00(Empat puluh dua juta rupiah)... atau sama dengan empat kali gaji pejabat setingkat GM/eselon 1 di BUMN. 






Comments