Charity Begins At Home PDF Print E-mail
Written by Bahrul Alam   
Tuesday, 16 June 2009 00:16
charityMasih tergiang-ngiang di telingaku ucapan nenek . "Jangan malu di miskinmu, jangan sombong di kayamu". Kata-kata itu sangat sederhana, tapi dalam. Entah apa yang mendorong mulutnya melontarkan bait kata yang menurutku sangat puitis. Sekarang nenekku sudah meninggal. Kuburannya di TPU-Kawi-Kawi, Jakarta i pun sudah tak jelas nasibnya. Jika dia hidup, usianya mungkin sekitar 98 tahun. Dia meninggal pada tahun 1991, ketika aku masih baru setahun bekerja di RCTI Dari nenekku inilah aku sejak kanak-kanak belajar mengenal kehidupan rakyat kecil. Meski dia istri seorang priyayi alias tuan tanah/menak dan juga ops blasting (Mantri Cukai) di Medan pada masa kolonial Belanda, kesehariannya sangat bersahaja.
Setiap pulang dari kebun kami di Bandar Somodong, sekitar 60 kilometer di Tenggara kota Medan, aku sering diajak nenekku berjalan kaki menyusuri jalan setapak di bawah pohon rambung (pohon karet/Hevea Braziliansis) . Melalui jalan setapak ini kami bisa menghindar dari sengatan matahari . Selain itu, aku juga bisa melampiaskan hobiku memungut buah para (rambung), yang biasa kami jadikan mainan ketika masih kecil. Buah para yang kucari adalah buah para bulus. Bentuknya lebih ceper, mirip labi-labi atau kura-kura, tapi memiliki kulit yang lebih tebal dibanding buah para biasa. Jika diadu dengan buah para biasa akan lebih kuat (tidak gampang pecah). Jika sudah keasyikan memunguti buah para, tak terasa, jarak 3 kilometer seperti hanya beberapa ratus meter saja. Setiba di ujung desa, ada kuburan Cina. Di tempat itu banyak ditumbuhi pohon kamboja . Tidak jauh dari situ berdiri sebuah rumah petak, dan klenteng kecil. Aku biasanya sudah tahu, sebentar lagi akan sampai ke kampung. Dulu keluargaku menyebutnya kampung sungai Hitam, karena di kampung itu mengalir sebuah sungai kecil. yang airnya berwarna jernih . Tidak tahu,, mengapa disebut sungai Hitam. Kampung ini terletak di kecamatan Dolok Masihul, kabupaten Serdang Bedagei. Di kecamatan Dolok Masihul inilah tinggal para leluhurku. baik dari garis ibu, maupun dari garis ayahku yang berasal dari Tapanuli Selatan (Mandailing) . Dari trah keluarga ibuku umumnya tuan tanah, dan pegawai pemerintah. Sedang dari pihak ayah, banyak yang menjadi pedagang sukses. dan alim ulama. Satu-satunya pemilik perusahaan bis yang mengangkut penumpang dari Medan ke Dolok Masihul, pada waktu itu dimiliki keluarga ayahku. Sedang almarhum iyutku atau ayah dari nenekku, adalah seorang guru besar agama islam pada masa itu. Beliau dikenal sebagai Guru Budin atau tuan syech Budin. Pernah menuntut ilmu ke Pattani di Thailand, pada masa penjajahan Belanda. Di kalangan warga kampung beliau sangat dihormati, karena penguasaan ilmu agamanya cukup banyak
Selama dalam perjalanan dari kebunku ke kampung, nenekku sering bercerita. Itu sudah menjadi kegemarannya sejak aku kecil Menurut nenekku, nama DOLOK MASIHUL asal katanya dari bahasa Simalungun. Artinya : Kampung yang dirindukan .(Masihol= rindu, Dolok=kampung). Masih kata nenekku, pada jaman dulu banyak orang dari Simalungun yang merantau ke daerah ini (Sekarang masuk kabupaten Serdang Bedagei), kemudian terkesan dengan kehidupan di situ. Makanya mereka berkata: Masihol Au di Dolok-khon... jadilah namanya Dolok Masihul..
Karena kakekku adalah seorang pamong, bergelar Datuk Pemegang Rencana, dan sekaligus Ops Blasting di kota Medan, secara garis keturunan, dia menjadi pewaris dari salah satu pemangku adat Melayu di Serdang Bedagei. Oleh karena itu, hampir sebagian tanah perkebunan karet dan lahan pemukiman yang terdapat di kecamatan Dolok Masihul milik kakekku. Karena anaknya cuma seorang, yaitu ibu kandungku, jadilah ibuku pewaris seluruh lahan perkebunan yang ada.

Tidak asing dengan perbedaan kultural

Di sekitar perkampungan leluhurku, banyak tinggal masyarakat perantau dari Simalungun , Tapanuli dan Jawa . Mereka umumnya pedagang, dan buruh perkebunan/penderes getah yang hidup jauh dari mencukupi. Sedang warga keturunan Cina juga ada. Mereka ini dulunya pekerja kontrak yang dibawa Belanda dari Hoa Kiau atau sekarang Guang Zhou. Umumnya mereka menjadi penyadap karet, dan membuka panglong. (Usaha Kayu_dan Getah Karet) . Nasib mereka juga tak jauh berbeda dengan kaum pendatang yang lain. Tapi, yang paling miskin adalah para buruh perkebunan yang berasal dari Jawa.Mereka tinggal di pondok-pondok yang terbuat dari kayu atau bangsal perkebunan. Setiap pagi, mereka sudah b ertebaran di perkebunan karet menderes getah. Jumlah mereka ribuan. Upah mereka biasanya dibayarkan mingguan. Pada saat pembayaran upah, biasanya muncul aktifitas berbelanja yang disebut pekan-pekan atau pasar mingguan. Pekan yang paling terkenal dalah Pekan Selasa, dan Pekan Kamis.
Bahkan, banyak keluarga ibuku yang menikah dengan orang Jawa dan Cina . Mereka kemudian menjadi nenekku juga meski tidak dalam hubungan segaris langsung . Asal mereka ada yang dari Tuluing Agung, Solo, dan Kek (Cina masikin perantauan_) . Dari merekalah aku mengenal diferiansiasi kultural tentang suku bangsa di negeri ini. Ketika almarhumah nenekku yang dari Tulung Agung menghembuskan nafasnya di rumahku di Jakarta pada 1986, aku tidak pernah bisa memenuhi wasiatnya, agar aku mencari tahu silsilah keluarganya di Tulung Agung. Nenekku yang b erasal dari Jawa Timur ini, sejak kanak-kanak diculik dan di bawa ke Sumatera Utara untuk menjadi kuli kontrak. Nasibnya yang kurang beruntung -menyisakan cerita tersendiri dalam perjalanan hidupku tentang buruh kontrak sejak kanak-kanak. Alhamduillah, beliau menikah dengan paman ibuku, yang mewariskan banyak kekayaan kepada nenekku itu, sehingga hidupnya sejak muda sampai akhir hayat cukup bahagia. Berbeda halnya dengan nasib teman-temanya yang lain ketika dibawa dari Jawa secara paksa. Berbeda dengan nenekku yang berasal dari Hoa Kiu. Kupanggil Nek Munah. Nama aslinya, Maimunah. DAlam mendidik anak2nya, beliau sangat keras. Dari situ aku belajar tentang kultur orang Cina perantauan.

Belajar berbagi sejak di rumah

Pesan moral dari cerita yang kutulis ini untuk mengatakan bahwa budipekerti harus dimulai dari rumah.
Meskipun ibuku terlahir dari keluarga bangsawan Melayu, dan tokoh ulama terkemuka pada masa itu, tetapi ayahku adalah seorang anak kampung dari keluarga biasa-biasa saja . Namun, beliau selalu menjadi inspirasiku. Begitu juga nenekku. Pengalaman paling tak terlupakan ketika aku mengenal seorang teman seusiaku, bernama Panut. Ayahnya bekerja sebagai penjaga kebun ku. Setiap kali aku bermain di kebun, Panut tampak tidak sehat. Wajahnya kekuning-kuningan. Perutnya juga buncit. Aku hanya bisa menduga-duga, dia mungkin terkena busung lapar. Karena kedermawanannya, ayahku membawa Panut tinggal bersamaku di kota Medan. Sebagai anak berusia 10 tahun, aku merasa Panut menjadi rivalku di rumah. Maklum, aku belum bisa memahami sikap ayahku mengajak Panut tinggal bersama kami. Bagiku, Panut adalah sainganku . Aku merasa iri melihat Panut diperlakukan sama seperti diriku. Sedang Panut, dimataku tak lebih seorang anak tukang kebun, yang miskin dan penyakitan. Ketika ayahku tidak di rumah, sering aku mengolok-olok, dan membuat Panut tidak betah tinggal bersama kami. Aku sering memerintahnya seenakku. Kesombongan dan rasa iri dalam hatiku, membuat Panut selalu ketakutan ketika melihatku. Tuhan, rupanya berbicara lain. Suatu malam, aku mendengar dari ayahku, kalau Panut sakit keras. Dia harus di bawa ke Dolok. Hatiku sangat gembira. Tak lama setelah peristiwa itu, aku mendengar, Panut dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Dokter mengatakan, dia menderita penyakit kuning. Yang kurasakan sejak saat itu, adalah rasa berdosa. Aku semakin takt, kalau-kalau arwah Panut datang, dan membalaskan sakit hatinya kepada ku.. Membalaskan semua kesombonganku... Aku tidak tahu harus berbuat apa, dan minta maaf kepada siapa....Tetapi, semua itu sudah terjadi.. Kesombonganku, ke serakahanku,,karena takut berbagi, telah menyisakan sejuta sesal di hatiku. Mulai saat itu, aku merenungi diriku...bahwa kesombongan dan rasa iri hanyalah menyisakan duka bagi orang lain...Akupun dimasukkan ke madrasah oleh ayahku,. Aku mulai belajar agama secara intensif, disamping terus mengikuti pelajaran di bangku sekolah umum sampai kelas 2 Tsnawiyah,, Sahabatku waktu di madrasah Alwashliyah ketika itu, adalah Sdr Eddy Noor, yang saat ini juga sedang menjadi komunitas FB. Beliau sekarang sudah menjadi Direktur PFN. Mudah2an cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi ku, betapa pembelajaran budi pekerti sangat penting dan harus di mulai sejak dini , di rumah. Sebuah bangsa besar hanya bisa bangkit dari keterpurukan, jika para pemimpinnya menjunjung tinggi budi pekerti. Subhanallaaah. Terimakasih Allah, telah mengingatkanku dari dosa-dosa masa kecilku...

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
 

About Me


article thumbnail

Dear Visitors Thanks for being my lovely guests… I am a 53 years old , married guy with 4 children , Anisa (22/graduated) , Sarah (21/married), Fajar Alam (19/student) and Irna (17 [ ... ]


  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow

Ramalan Cuaca

sumber: bmg.go.id