|
Meski dengan vokal sedikit bergetar, dia masih fasih melafalkan penggal bait demi bait isi surah Dhuha itu. Akupun terkagum-kagum sambil mendekap tubuh renta nenekku.
Tak tampak raut cemas di wajahnya. Pendengaran dan penglihatannya masih baik. Juga ingatannya. Hanya kedua kaki dan tulang belakngnya yang sudah tidak mampu lagi menopang tubuhnya.
Terakhir kali aku bertemu dia, Oktber 2008. Setiap kali menatap wajahnya yang renta itu, aku selalu teringat, kelak, kita semuapun akan seperti dia. Tak berdaya..dan pasrah. Tapi, yang menjadi pertanyaanku, banyak kelebihan nenekku ini. Di usianya yang senja, dia tak tampak seperti orang kehilangan kepercayaan. Sebaliknya, dia merasa sangat dekat dengan Sang Khalik..
Pelajaran hidup paling bermakna yang kudapat dari nenekku ini soal budi pekerti. Pernah suatu ketika, aku pulang kantor. Usai memarkir kendaraan di carport-rumah, aku masuk dari pintu samping. Nenekku menyambutku. Aku menyalaminya, dan terus menggantungkan jas. Sudah jadi kebiasaanku mengeluarkan desah ..Aaah...maksudku capek,,setelah seharian siaran di RCTI...Tiba-tiba saja nenekku menyapa lembut. "Huss,,jangan mengeluh. Ucapkan Alhamdulillah',. Akupun terdiam, sambil mengiayakan nasihatnya. Dari situ, aku jadi terfikir...iya juga,..kog sering aku mengeluh... padhal itu suatu perbuatan yang sangat tidak disukai Allah.
Di waktu yang lain, aku juga pernah diberi ajaran menarik tentang hidup dan berbagi. Ketika berkunjung ke rumahnya di belakang kuburan mandailing di J.Brigjen katamso-Sungai Mati-Medan, kulihat ada seorang tua sedang menyapu makam. Ku hampiri wanita tua itu. Ternyata dia nenekku. Kutanya, kenapa dia menyapu kuburan yang begitu banyak. Bukankah sudah ada petugas untuk itu ?? Jawab nenekku: "Tadi aku membersihkan makam kakekmu. Entah mengapa, tiba-tiba, seperti ada panggilan dari makam2 yang lain minta agar makam mrk juga kubersihkan . " kata nenekku .. Sejak itu, jadilah nenekku penyapu makam, tanpa digaji..Menurutnya, pekerjaan itu sudah menyenangkan hatinya. "Nenek sepertinya bisa menyenangkan mereka.", katanya sambil menunjuk ke pusara-pusara yang membisu di antara pohon kamboja. "Ikhlas kau, dalam mengerjakan sesuatu. Pasti jauh penyakit," lanjutnya lagi menasehatiku..Akupun cuma bisa mengangguk-angguk kayak burung pungguk..
Nenekku memang seorang perempuan perkasa dan welas asih. Sejak kanak-kanak, aku sering bermain ke rumahnya. Pasalnya, dia suka memanggilku, dan menyuguhkan permen atau kueh ke tanganku. "Ambil nek..', katanya kepada ku..
Sebagai isteri dari seorang tokoh masyarakat, nenekku hampir tak ada cacat, dilihat dari segi kesabaran dan kejujuran. Suaminya, adalah seorang lurah, pejuang kemerdekaan bersama-sama M.Joni, Bung Karno, dan Pak Bejo. Suaminya yang adalah kakekku (abang ibu ayahku) bernama M.Yusuf Nasution. masih sepupu dengan Jend.A.H. Nasution. Bahkan, menurut penuturannya, sejak kecil, mantan Menteri Kehutanan , M.Hasjrul Harahap dan Mantan Kepala Kejaksaaan Tinggi Sumut, Khiaruman Harahap pernah tinggal bersamanya. Tapi, nenekku tak pernah berharap apapun dari mereka.
Di salah sebuah kamar kecil, pengap, kini nenekku terbaring -bahagia, sambil menunggu panggilan sang Khalik...dengan wajah selalu ceria... Setiap kupandang wajah itu,,,tampak mulutnya komat kamit,, menguntai asma Allah...selalu detik demi detikk... Dia selalu Khusnuzon kepada Allah SWT... Sebelum kutinggalkan..kembali ke Jakarta, dia berbisik ke telingaku: "Sangkot, , jangan pernah berburuk sangka sama Allah...biarpun nenek begini, Nenek selalu dijaga Malaikat,,, ",, Sabar kau.. Puji Dia,,jangan pernah mengeluh atau merasa lelah,,,", Kalian liat aku begini, sebenarnya aku tak merasa sakit atau lapar..... ".
Powered by jWarlock jwFacebook Comments
|
Comments