| Giok- dan Sang Presiden |
|
|
|
| Written by bahrulalam |
| Monday, 01 June 2009 05:57 |
Tak ada keluh kesahTak ada umpatan Tak ada kebencian Yang terlontar dari bibir dan sorot mata pria berkulit hitam, bertubuh kecil dan Meski harus berteduh di i sebuah gubug reot di tepi kali., berukuran 3x 2 meter, berdinding kayu Di mataku, Giok adalah sebuah potret relawan tanpa pamrih SBY-JK Istrinya, kupanggil Inem. seorang pembantu rumah tangga Anaknya 3 orang, semua perempuan. Yang paling tua sedang menyelesaikan SLTA. Nmor dua hanya sampai SD, dan mengikuti jejak ibunya menjadi PRT. Si kecil, Santi, masih duduk di kelas 2 SD. Terakhir kali aku bertemu Giok, pada 2006 Tubuhnya kena stroke. Sebagian badannya lumpuh. Bicarapun tak karuan. Hampir 2 tahun tubuh renta itu tergeletak seperti papan dimakan rayap di gubugnya yang pengap dan sempit Tak banyak yang datang membezoek.. kecuali cicak dan tikus rumah yang berseliweran mencari sisa nasi dan makanan di atas periuk dan ember butut ... Tapi, di hatiku, Giok adalah seorang relawan SBY-JK yang rajin dan penuh komitmen Di banding mereka yang suka jadi kutu loncat Di mataku, Giok adalah potret anak bangsa yang nelangsa dan terlupakan Mimpi Giok ketika bertemu denganku sangat sederhana Seandainya SBY-JK berhasil menang.. Giok ingin hidup lebih baik.... Anak dan istrinya bisa makan tiga kali sehari, meski pake lauk tempe dan sambal Anak dan istrinya bisa tinggal di kontrakan yang lebih baik..dengan sewa 200 ribu sebulan .. Dia tidak butuh anggur, apel , dan roti keju untuk kudapannya.. Ternyata ,,Mimpinya tinggal mimpi . Kini Giok sudah pergi mendahuluiku... Jasadnya dikuburkan di kampungnya di Yogya..tiga tahun lalu,,, Anak dan istrinya masih tetap tinggal di gubug reot seperti lima tahun lalu... Di dekat rumahku... Selamat jalan Giok.. krempeng kelahiran Yogya yang bernama Giok hanyalah kepasrahan... Powered by jWarlock jwFacebook Comments |
| Last Updated on Monday, 15 June 2009 06:00 |



Tak ada keluh kesah






Comments