| 'Menjual' Boediono |
|
|
|
| Written by Bahrul Alam |
| Tuesday, 16 June 2009 00:25 |
Meski secara pribadi saya belum pernah bersentuhan dengan pak Boediono, tetapi. setelah membaca berbagai testimoni tentang sosok beliau,
apalagi melihat wajah beliau yang begitu santun, dan bijak, secara pribadi ada decak kagum dalam diri saya . Pertanyaan saya, bisakah sosok yang saya rekam ini sama sebangun dengan rekaman yang diterima pasar ? Pasar di sini adalah pemilih . Mereka , selain yang ikut mencontreng pada Pilcaleg kemarin, adalah juga Golput yang angkanya sangat besar, yaitu di atas 30 juta suara. Sebagian besar pemilih adalah masyarakat desa, yang bekerja sebagai petani, nelayan, pedagang asongan, kaum muda , dan pensiunan PNS. Sementara kita semua menyadari domain politik nasional sarat intrik,dan iming-iming uang dan jabatan . Bahkan, tak jarang, ada parpol sengaja dijadikan investasi politik jangka pendek. Jika kalah bertarung, suara yang ada bisa dijual . Seperti mendirikan perusahaan saja. Sekarang kita bisa menyaksikan sebagian dari mereka sedang in-action , meski tak lolos PT (Parliamentary Threshold) . Selain itu, tak ada yang memungkiri, jika Pemerintah SBY-JK belum sepenuh hati dalam menumpas 'pengeret' duit rakyat, Kalaupun ada, seperti diungkapkan oleh ICW (Kompas, 18 /5 -ICW dan KPK masa Antasari ), KPK di bawah kepemimpinan Antasari masih menangani kasus pada tingkat permukaan dan bersifat kasuistis. Belum mengusut tuntas ke akar-nya. Walhasil, mereka yang saat ini sedang naik panggung, masih memiliki segudang 'cacat' atau kelemahan, yang kesannya masih membekas di benak publik. Lobang yang harus ditutup Menjual pak Boed, susah-susah gampang. Dengan sisa waktu kurang 2 bulan, rasanya diperlukan energi ekstra untuk merancang pak Boed-sebagai 'komoditi' politik yang layak jual. Pesaingnya, yang juga punya keterbatasan , bisa jadi akan saling menggunakan kelemahan masing-masing. Salah satu isu yang sangat mungkin di'jual' oleh lawan pak Boed, adalah Isu 'neoliberal', dan koalisi 'Jatim-Jatim', Target pasar mereka sudah pasti -luar Jawa, dan bekas daerah konflik seperti Indonesia Timur, Aceh, dan Kalimantan. Selain itu, kantong-kantong islam, yang masih tradisional, dan anti Amerika. Harus bisa menyiapkan Antisipasi terhadap Black-Campaign, Apa yang diraih SBY-JK pada 2004 berbeda dengan sikon 2009. Kalau dulu mereka duet, sekarang jadi pesaing. Pengalaman saya ketika menjadi bagian Tim relawan SBY-JK pada 2004, barangkali bisa dijadikan catatan. Ketika berkembang isu, Ibu Ani Soesilo B adalah kristen, akar rumput di berbagai kantong SBY- pada pilpres putaran pertama sebagian besar resisten terhadap SBY- . Kasus ini nsaya alami di Tangerang, dan sebagian Sukabumi , Bangka Belitung, dan Medan. Berkat -kerjasama yang baik dengan Pimpinan Demkrat waktu itu, bekerjasma dengan Yusron Centre for SBY-JK, kami menyelenggarakan konfrensi Pers, di Jakarta. Hasilnya, semua mediamasa ibukota dan daerah2 membuat beritanya . Isinya, bantahan bahwa , Ibu Ani Sby beragama non Islam. Aslinya dibawa ke Polda Metro Jaya waktu itu, sebagai berkas untuk menuntut pihak-pihak yang telah menyebarkan berita bohong. Namun , itu saja tidak cukup. Saya juga harus memfotocopy lebih banyak lagi berita acara t=itu, untuk disampaikan /dibacakan di depan jemaah pengajian di kampung-kampung di wilayah desa Jurangmanggu Barat. |



Meski secara pribadi saya belum pernah bersentuhan dengan pak Boediono, tetapi. setelah membaca berbagai testimoni tentang sosok beliau,
apalagi melihat wajah beliau yang begitu santun, dan bijak, secara pribadi ada decak kagum dalam diri saya . Pertanyaan saya, bisakah sosok yang saya rekam ini sama sebangun dengan rekaman yang diterima pasar ? 






Comments