Pilpres 2009: Memilih dengan Hati Nurani atau Akal Sehat ? PDF Print E-mail
Written by Bahrul Alam   
Monday, 15 June 2009 00:00
banjirSeorang sahabat tiba-tiba datang menghampiriku, sesaat aku baru saja keluar dari gerbang mesjid mesjid di kompleksku . Ngk, jelas . apakah dia dari salah satu kubu tim Sukses Pilpres, atau memang warga netral. Yang pasti, dia langsung angkat bicara soal Pilpres yang tinggal beberapa hari lagi. "Bung, Ingat, sebentar lagi nasib negeri ini akan ditentukan pilihan Anda.". Jadi, jangan salah pilih. Apalagi salah contreng, lanjutnya seperti serang dosen yang sedang memberi kuliah. Aku cuma bisa terbengong. Tetapi, jauh di dalam lubuk hatiku ada rasa gembira yang meluap. Rasa GeeR, yang membisikkan: 'Rul, ente juga punya peran menentukan arah negeri ini". Selanjutnya, temanku ini menyarankan, agar pilihan tidak keliru, gunakanlah hati nurani. Akupun merasa bingung, wow. bagaimana caranya yaa... Kalau pake si Nuraini, aku tahu. Aah.. dasar nasib.. kuberanikan bertanya kepada sang teman . "Emangnya memilih dengan hati nurani itu yang kayak apa ?." Serta merta mendengar pertanyaanku, sang temanpun kaget. Lha. iya, bung. akupun ngk jelass... apa yang dimaksud dengan memilih dengan hati nurani....pendeknya, itu sudah jadi rahasia umum lah... katanya bersungut-sungut. Aku menjaga suasana hatinya...Berarti kau cuma latah saja ya,,,

Pakailah Akal Sehat....

Akhirnya aku menepuk bahu temanku sembari menunjuk ke sebuah gubuk di tepi alur sungai di komplekku. 'Kau tengok itu". Sebentar lagi hujan turun, dan air naik, gubug itu akan tenggelam . Di dalamnya ada satu keluarga, 2 remaja ABG,. seorang anak kecil, dan ibunya yang janda. Gubug itu mereka sewa 80 ribu sebulan. Luasnya, 3 x 3,5 meter persegi. Dindingnya dari papan bekas..lantainya semen oplosan bercampur tanah. Tinggi pintu 1,5 meter. Mirip rumah Liliput. Sudah hampir 5 tahun mereka tinggal di gubug itu. Dulu, orangtua mereka sahabatku. Namanya Gio. Gio meninggal akibat struk 2 tahun lalu. Pekerjaan lelaki asal Yogya itu, serabutan. Tapi, bagiku dia pernah punya andil sebagai tim relawan SBY-JK pada Pilpres 2004. Memang dia orang kecil. Tapi aku masih ingat sepak terjangnya ketika itu. Bahkan dia lah yang mengurus penyewaan metromini, mengatur orang-orang yang akan berangkat ke Senayan pada hari terakhir kampanye terbuka di Senayan..Tidak jauh dari gubug mereka ( sekitar 5 meter ) , berdiri sebuah mesjid megah -An Nikmah- yang artinya Nikmat, yang dibangun warga kompleks. Di mesjid itu, setiap minggu diadakan pengajian. yang memberi ceramah mulai dari Jamil Azzaini , Mama Dedeh, dan kawanku, Dr. Rivai Nst. Kukatakan kepada temanku: "Tak ada hubungan antara mesjid ini dengan gubug itu , meski saling berdekatan. Mengapa ? Kata temanku dengan nada memprtes pernyataanku ." Bukankah di mesji itu, tempat orang beribadah dan bersujud memhon ampun kepada Allah SWT ? Bukankah, jika ada ceramah/pengajian di mesjid itu dimaksudkan untuk memberikan pencerahan bagi kehidupan umat ". sambungnya seperti pak ustadz yang sedang mengajari murid di madrasah. ? Bukankah Islam adalah agama Rahmatan Lil Alaminnn. Aku tidak mau menjelaskannya lagi.... sama seperti ketika di awal dia mengatakan kepadaku,. pilihlah dengan menggunakan hati nurani. Kini giliranku kembali mengutip ucapannya , : Pakai saja hati nurani dan akal sehatmu....

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
 

About Me


article thumbnail

Dear Visitors Thanks for being my lovely guests… I am a 53 years old , married guy with 4 children , Anisa (22/graduated) , Sarah (21/married), Fajar Alam (19/student) and Irna (17 [ ... ]


  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow

Ramalan Cuaca

sumber: bmg.go.id