Membangun Paradigma Baru Paska Perum LKBN ANTARA PDF Print E-mail
Written by Bahrul Alam   
Friday, 17 April 2009 12:38

antaraSebentar lagi sejarah kantor berita Antara memasuki babak baru.  Perjalanan panjang kantor berita  yang didirikan oleh alm Adam Malik dan kawan-kawan sejak 69 tahun lalu akan tinggal sejarah.  Status badan hukumnya akan berganti menjadi Perusahaan Umum (Perum) . Dengan jatidiri barunya  , kelak LKBN Antara sepenuhnya menjadi milik negara. Artinya, 100 persen kepemilikan saham (Tidak dapat dipecah) dikuasai Pemerintah, yang dalam hal ini diwakili oleh Departemen Keuangan. Sedangkan kewenangan menetapkan Dewan Pengawas, dan Direksi sepenuhnya menjaid wewenang Kementerian terkait, yaitu Meneg BUMN ,. Menteri Keuangan, dan Meneg KomInfo.

Dimana Posisi Antara paska Perum  ?

Sebagai pelaku bisnis berbadan hukum Perum  Kantor Berita Antara kelak akan tunduk pada undang-undang BUMN No.30 /............  Dari sudut perilaku bisnis yang dikelolanya, -seandainya nanti LKBN Antara mengembangkan usahanya ke bidang usaha Penerbitan pers dan Penyiaran-Perum LKBN Antara juga  harus tunduk kepada  UU Pers dan Penyiaran .  Pertanyaan kita : Siapkah   LKBN Antara   menghadapi pesaing-pesaingnya di bidang industri mediamasa/informasi ?   Data saat ini ini menunjukkan peran kantor berita tidak cuma diemban oleh LKBN Antara saja.  Grup Radio Utan Kayu sudah mengembangkan sayapnya menjadi Kantor Berita Radio 68 yang berjejaring dengan lebih 500 radio di daerah-daerah di Indonesia. Selain itu, KBR 68 juga merelay siaran langsung VOA dan BBC. Hal serupa juga dilakukan oleh grup radio Elshinta . Meski Elshinta belum menyebut dirinya sebagai kantor berita radio, siarannya yang bisa ditangkap di berbagai daerah pada jam tertentu dan oleh sejumlah radio Elshinta daerah  kian membuktikan persaingan di dalam industri informasi semakin ketat.  Sebentar lagi, jika tidak ada halangan , grup industri media di bawah payung Media Nusantara Citra (MNC) juga akan melebarkan sayapnya ke bisnis penyedia informasi (Content Provider) .

Bisnis informasi, khususnya multimedia semakin menggairahkan para pebisnis . Sebagaimana diungkapkan L.Parapak dan mantan Dirjen Postel yang saat ini menjadi Ketua Mastel,  Giri Soeseno , di Bali, Oktober tahun silam,  masa depan informasi akan dikuasai oleh mereka yang mengelola konten, khususnya elektronik.  Jenis dan sifat informasi juga akan lebih tersegmentasi . Bahkan konsep broadcast (Sistim pancarluas) akan menjadi multicasting ( dari satu sumber ke berbagai jenis saluran penerima /Multimedia) . Kemajuan teknologi memungkinkan semua itu.   Stasiun TV di tanah air juga sudah mulai menawarkan  produk-produk yang mereka siarkan melalui Website sehingga bisa  bisa diakses oleh internet dan telepon  genggam  secara selektif . Singkat kata, kelak, tidak ada bagian dari bumi pertiwi ini yang tidak dapat dijangkau oleh informasi elektronik.   Kalau begitu, dimana ruang yang bisa dimasuki oleh LKBN Antara paska Perum  ?  Jawabannya cukup   banyak. Pertanyaan kita selanjutnya : Bagaimana Antara memainkan perannya sehingga produk-produk informasi yang dihasilkan tidak kalah bersaing dengan produk pesaing ?  Tidak gampang. Antara harus melakukan sejumlah langkah revolusioner jika tidak ingin tersingkir dari lapangan permainan .

Infrastruktur dan diversifikasi

Dua kata kunci  , penguatan  infrastruktur (Backbone), dan Diversifikasi adalah strategi awal  yang harus disiapkan oleh  LKBN Antara sebelum masuk  menghadapi pasar bebas paska Perum .  Langkah ini mutlak harus dilakukan jika tidak ingin Antara menjadi pecundang. Setelah itu, Antara juga harus siap melakukan perubahan pola fikir dan pola tindak yang lebih profesional. Artinya unsur pelayanan optimal ke pelanggan adalah hal utama  . Profesor bidang Pemasaran dari Harvard ,  Theodore Levitt mengatakan kepada mahasiswanya , ”People don’t want to buy a quarter-inch drill. They want a quarter-inch hole,” Artinya, konsumen tidak bisa disegmentasikan ke dalam variable demografis, usia, jenis kelamin , atau gaya hidup. Paradigma itu, menurut Levitt sudah terbukti keliru dan banyak menyusahkan bagian pemasaran karena sibuk untuk terus memenuhi apa yang menjadi hasrat konsumen.  Menurut Levitt, apa yang dibutuhkan oleh pasar tidak lain dan tidak bukan adalah layanan praktis terhadap kebutuhan mereka sehingga pekerjaan mereka bisa selesai dengan baik.  Oleh karena itu, pemasaran harus lebih jeli mempelajari apa yang dikerjakan oleh konsumen setiap hari, dan produk apa yang bisa menolong mereke dapat menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik. Kata kuncinya adalah kreatifitas yang tinggi sangat dibutuhkan di dalam mengintip peluang pasar. Lebih jauh Levitt mengatakan , dengan memahami jenis pekerjaan konsumen, dan memproduksi produk ril atau jasa layanan yang  memiliki aspek dimensi emosional, fungsional dan sosial,. akan sangat meningkatkan daya saing suatu produk.

Dari sisi infrastruktur, sebagai ‘industri’ yang memproduksi jasa layanan informasi  ke publik ,  LKBN Antara bisa digolongkan sudah cukup baik.  Hanya saja, pola  jejaring yang dibangun belum didukung oleh ketersediaan kualitas dan system pengelolaan informasi yang terpadu dan efektif.     Dari 33 perwakilan di seluruh provinsi, ditambah personil redaksi di kantor pusat yang jumlahnya lebih dari 200 orang, Antara baru bisa menyediakan jasa layanan informasi tercetak melalui VISAT. Sementara tuntutan pasar sudah melampaui apa yang bisa disediakan oleh Antara. Konsumen tidak lagi menjadikan produk-produk Antara sebagai yang utama. Pilihan semakin banyak. Lihat saja Reuters, BBC, Detik Com, Kompas Online, Jawa Pos Online,  Googles, Yahoo, juga melakukan jasa layanan serupa. Bahkan, jauh lebih variatif dibanding  produk-produk Antara. Bandingkan tingkat penggunaan situs Detik Com dengan Website Antara.  Data sampai dengan Februari  2007 menunjukkan, pengguna Detik Com sudah mencapai lebih dari satu juta orang, sementara Web Antara kurang dari  300 ribu orang .

Diversifikasi usaha yang mulai dilakukan oleh Antara dengan memproduksi layanan informasi audiovisual (TV) , dan Plasma TV-adalah suatu permulaan yang baik. Tinggal bagaimana meningkatkan mutu produk dan layanannya sehingga bisa memenuhi tuntutan kebutuhan pasar sebagaimana yang dikemukakan  Levitt.

Riset Pasar dan Perbaikan Sarana Pendukung Kerja Produksi

Di Amerika Serikat, setiap tahun  terdapat 30 ribu  produk konsumer diluncurkan.  Ke pasar. Namun, lebih dari 90 persen gagal diterima pasar. Padahal, biaya untuk riset dan produksi cukup tinggi.  Apa gerangan yang menyebabkan kegagalan tersebut  ? Apakah para periset tidak cukup cerdas ? Atau biro iklan sudah kehilangan kreatifitas ? Atau konsumen terlalu sulit memahami pemanfaatan produk yang dipasarkan  ?  Menurut Lafley, praktisi/CEO m,arketing P& G - , dunia usaha perlu menginventarisasi kembali cara yang tepat memasarkan produk ke konsumen .  Perlu model baru.  Hal serupa juga dikemukakan Professor Levitt dari Harvard Business School.  Bagaimana dengan produk-produk yang dihasilkan oleh Antara  ? Pernahkah dilakukan penelitian pasar secara berkesinambungan bahwa apa yang diproduksi selama ini masih diperlukan oleh pasar atau mungkin sama sekali sudah tidak dibutuhkan .  Jawabannya bisa ya bisa tidak. Dari sejumlah hasil laporan Konsultan , khususnya ketika menyusun rencana membangun Rumah Produksi Antara , memang ada laporan yang menyinggung persepsi pasar terhadap produk-produk yang dihasilkan Antara.  Laporan yang disusun lebih dari 100 halaman, dan dibiayai cukup besar itu , tidak sedikitpun tampak ditindaklanjuti di dalam praktik usaha sehari-hari . Yang terjadi saat ini adalah pilihan-pilihan yang belum didasarkan pada hasil riset pasar.  Jika, TV Antara ingin melakukan diversifikasi usaha ke bidang jasa layanan informasi audiovisual (Content Provider), pijakannya adalah bagaimana mengukur tingkat ketergantungan  atau kebutuhan stasiun TV nasional terhadap produk-produk  layanan audiovisual yang murah, dan memenuhi syarat layak tayang program acara mereka .  Untuk itu diperlukan riset pasar mengenai biaya produksi siaran dan peliputan berita dari masing-masing stasiun.   Survei AC Nielsen sendiri baru pada tingkat  memetakan segmentasi pasar penerima siaran TV di tanah air.  Menurut salah seorang CEO AC Nielsen,   jika ingin mengetahui lebih jauh tentang i cost of program dari masing-masing stasiun, perlu dilakukan survei tersendiri . Biasanya hal itu tidak gampang, karena menyangkut rahasia perusahaan.

Riset memang penting dan mahal. Selain itu, diperlukan metodologi yang tepat untuk mengetahui siapa dan bagaimana kebutuhan pasar terhadap keberadaan produk-produk Antara paska Perum . Jika tidak,  bagaimana Antara tahu dan memamahi apa sesungguhnya yang dikehendaki pasar.

Mengutip artikel yang dimuat di dalam Harvard  Business Review edisi 2004, praktik pemasaran yang tidak bisa menangkap isyarat pasar yang benar bisa dikategorikan sebaga  Malpraktik di bidang pemasaran. Antara telah gagal menjadi penyedia jasa layanan informasi yang sehat dan kompetitif.  Terbukti perbandingan di antara biaya produksi berita dengan harga jual ke konsen (pelanggan) berbanding sangat jauh, yaitu hampir 1 : 5 . Biaya produksi lima rupiah, dijual ke pelanggan dengan harga 1 rupiah.

PSO sebagai solusi  : Mungkinkah ?

Hasil rapat harmonisasi RPP LKBN Antara pada hari Senin, 5 Maret di gedung Direktorat Hukum dan Perundang-undangan antara lain membahas substansi Aset, PSO dan jumlah susunan Direksi . Yang paling menarik dan krusial adalah menyangkut PSO.

Apakah jasa layanan informasi yang diselenggarakan oleh LKBN Antara paska Perum bisa dipertanggungjawabkan sebagai jasa layanan yang harus disubsidi oleh negara ?

Pengalaman membuktikan bahwa peran negara di era reformasi dan kebebasan pers lebih merupakan fasilitator ketimbang regulator.  Hal itu juga sudah dibuktikan dengan memposisikan fungsi lembaga kementrian Depkominfo yang tidak lagi mengurusi konten dan tatacara pelaksanaan mediamasa. Konsekwensi logis dari perubahan paradigma tersebut adalah berubahnya status TVRI dan RRI menjadi lembaga penyiaran publik (LPP),  Regulator penyiaran secara perlahan tapi pasti berpindah ke tangan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) . Demikian pula fungsi serupa, meski tidak sama juga dilakukan oleh Dewan Pers .untuk media cetak.

Secara teknologi, tidak ada lagi wilayah di Indonesia yang tidak bisa dijangkau oleh media. Lantas, bagaimana memposisikan peran jasa layanan informasi Antara agar bisa dikategorikan sebagai jasa layanan yang sesungguhnya menjadi kewajiban Pemerintah/Negara  sehingga  oleh karena itu wajib disubsidi .   ?  Hal lain yang tidak kalah penting dan menarik , betulkah publik membutuhkan jasa layanan Antara sebagai yang utama (Primer)  ?

Secara teoritis-maupun empiris, argumentasi yang dimiliki Antara untuk bisa memaksakan agar negara membayar subsidi atas kerugian yang diderita Antara dalam pelayanan jasa informasi ke publik sangat lemah. Terkecuali untuk hal-hal yang bersifat kasuistis. Misalnya,  penjelasan lengkap pidato presiden yang tidak disiarkan oleh media lain . Atau informasi /penjelasan kebijakan menteri tertentu tentang hal-hal tertentu yang kerahasiaannya perlu dijaga. Tapi, itupun sudah sangat tidak mungkin di era yang terbuka seperti saat ini.

Mengedepankan Pelayanan yang Profesional

Agar tetap bertahan,  tidak ada pilihan lain, kecuali mengedepankan aspek profesionalitas. Itulah kata kunci yang harus dilakukan LKBN Antara paska Perum . Undang-Undang (RPP) juga menjelaskan secara eksplisit bahwa Perum adalah badan usaha yang 100 persen sahamnya dimiliki oleh pemerintah, dan pengelolaannya dilakukan menurut prinsip-prinsip manajemen usaha yang sehat.

Dilihat dari sisi asset dan liability, kecenderung Antara bisa unggul tanpa didukung modal usaha awal,  sangatlah  kecil. Apalagi, rasio pendapatan usaha ril dengan pengeluaran menunjukkan angka  negatif. (70 persen dari pendapatan usaha dikeluarkan kembali untuk membayar gaji karyawan) . Sementara kontribusi dari pendapatan murni masih di bawah 30 persen dari seluruh pendapatan Antara.

Ramping, Terukur dan Bersih

Manajemen yang ramping, program kerja yang terukur, dan SDM/kepemimpinan yang bersih menjadi prasyarat utama bagi keberadaan Perum LKBN Antara. Untuk mencapai semua itu, perlu dilakukan audit secara menyeluruh. Termasuk Marketing, Keuangan dan SDM . Berapa lama dan siapakah yang akan melakukannya, terpulang kepada pemegang/pemangku kepentingan, yaitu Pemerintah. Kita berdoa, dan berharap semoga Antara baru akan lebih baik.

Powered by jWarlock jwFacebook Comments

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
Email (For verification & Replies)
URL
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Last Updated on Friday, 15 May 2009 00:42
 

About Me


article thumbnail

Dear Visitors Thanks for being my lovely guests… I am a 53 years old , married guy with 4 children , Anisa (22/graduated) , Sarah (21/married), Fajar Alam (19/student) and Irna (17 [ ... ]


  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow

Ramalan Cuaca

sumber: bmg.go.id